PTC17 Finale: Wishiwashi, Shattered Psyche, hingga Debar Alola di Hati

Alola!

Fadli Putera

Setelah melewati enam Live Tournament (LT), sepuluh Online Tournament (OT), dan Last Chance Qualifier (LCQ) untuk menyeleksi 16 Trainer terbaik di tanah air, gelaran PKMN-id Trainer Circuit 2017 (PTC17) akhirnya selesai diselenggarakan pada ajang PKMN-id Trainer Circuit 2017 Grand Final (GF), 27 Agustus 2017 lalu, bertempat di BINUS JWC Campus, Jakarta, sebagai salah satu rangkaian acara festival budaya Jepang BIJAC no Tanjoiwai 10. Fadli Putera (Fadli), yang mewakili Kota Bandung, berhasil mengukuhkan dirinya sebagai Trainer terbaik dari yang terbaik di Indonesia setelah mengentaskan perlawanan Garry Karnadi (Kirra) asal Bogor dengan skor telak 2-0.

LCQ Usage GF Usage

Walaupun Arcanine dan Tapu Koko masih mendominasi usage Pokémon, muncul beberapa Pokémon yang belum pernah tampil sebelumnya di sepanjang sirkuit, tidak hanya sebagai pemanis namun juga menunjukkan kapabilitasnya. Wishiwashi berhasil membantu Ama Bon (amadayoVGC) menyapu bersih seluruh set pada Swiss Round LCQ. Duo Bogor yang menembus Top Cut GF, M. Hafidz Syahril (Second Story) dan Kirra, juga membawa Pokémon yang cukup unik, yaitu masing-masing Flygon dan Sandslash-Alola. Salah satu Pokémon unik lainnya adalah Braviary yang dibawa oleh Fikri Azka Nugroho (Azka) yang juga berasal dari Bogor.

Usage dari Garchomp dan Tapu Lele, yang sebelumnya selalu berada di urutan Top 4, mengalami penurunan drastis. Posisi mereka tergantikan oleh Tapu Fini dan Porygon2. Berkurangnya kehadiran Garchomp membuat Metagross menjadi pilihan yang baik sebagai heavy hitter. Weakness Policy Metagross dipilih oleh Oktavian Jason (Jason) dengan core MetaMence yang begitu popular sejak kemunculannya di NA International Championship. Di sisi lain, amadayoVGC dan Fadli mempersenjatai Metagrossnya dengan Z-Crystal; masing-masing Groundium Z dan Psychium Z. Sedangkan berkurangnya Tapu Lele disinyalir mengikuti tren pada World Championship 2017; mayoritas Trainer memilih bermain lebih defensif dengan Tapu Fini. Banyaknya Celesteela selama LCQ juga sepertinya memaksa Trainer untuk mengesampingkan Tapu Lele. Hanya Fadli dan William Tong (Pisuke) yang masih menggunakan Tapu Lele, yang memang merupakan Pokémon andalan mereka sejak awal musim.

Minimnya penggunaan weather setter juga menjadikan Ninetales-Alola call yang baik. Ninetales-Alola berhasil mengantarkan Josua Marbun (MayburnVGC) melaju dari LCQ ke babak GF, pun memuluskan langkah Second Story yang tak terkalahkan selama Swiss Round GF sebelum dikalahkan oleh Kirra, satu-satunya Trainer lain yang membawa weather setter lain – Gigalith. Ninetales-Alola memungkinkan Trainer untuk memasang Aurora Veil dalam kondisi Hail, menjadikan keseluruhan tim lebih bulky dan sulit dikalahkan. Strategi ini sangat cocok dengan strategi berbasis set up semisal Dragon Dance, Swords Dance, maupun Tail Glow, seperti yang telah didemonstrasikan oleh Taufik Wiradarmo (Pikurin) dengan Dual Screen Klefki dan Swagger Tapu Fini sejak medio Maret. Namun absennya weather setter bukan berarti para Trainer tidak siap untuk melawan Ninetales-Alola maupun Klefki. amadayoVGC dan Pisuke membawa Brick Break pada Krookodile dan Kartana milik masing-masing. Hal ini mungkin terinspirasi dari kesuksesan Ryota Otsubo (Barudoru) meraih titel juara World Championship 2017 dengan Brick Break Marowak-Alola.

LCQ Team

 

Sayangnya pilihan-pilihan unik tersebut belum mampu berbicara banyak. Tim-tim yang menembus Top 4 menggunakan core populer yang telah teruji di sepanjang musim VGC2017. Muhammad Mangan (Jobs) menggunakan tim yang dipopulerkan oleh Eduardo Cunha (EmBC), namun dengan Tapu Bulu sebagai ganti Kartana. Kirra menggunakan core Fini-Arcanine-Kartana-Electric (FAKE) yang mulai terkenal sejak Battle Road Gloria di Jepang. Terakhir, sang jawara Fadli memilih core yang mengantarkan Zoe Loe (Thowra) memenangkan Oceania International Championship: Drifblim-Lele. Fadli juga memilih Nihilego dan Buzzwole sebagai check terhadap para Tapu dan tim Trick Room, seperti yang dipopulerkan oleh Mohamed Nihal (MisterGX) dan David Koutesh (Hamstermania). Poin menarik lainnya adalah bahwa Fadli menggunakan varian lambat dari Scarf Lele seperti yang pernah digunakan Pikurin pada Live Tournament pertama PTC17 Januari lalu. Varian ini memungkinkan Tapu Lele untuk melindungi Metagross baik dari Garchomp maupun Arcanine, serta mengurangi damage dari serangan Electric Tapu Koko dengan mengganti terrain menjadi Psychic Terain; di saat yang bersamaan meningkatkan damage dari Shattered Psyche Metagross.

Kemenangan Fadli menandakan kegagalan pertama Tapu Koko untuk menjadi anggota tim jawara; Tapu Koko selalu hadir di daftar tim seluruh pemenang LT PTC17. Hal unik lainnya adalah hadirnya seluruh Tapu pada lineup Top 4. Dengan hadirnya tiga Ultra Beast, empat Alolan form, serta tiga Pokémon asli Alola lainnya, nuansa Alola terasa begitu kuat di Grand Final ini!

Kalian bisa menonton seluruh pertandingan yang ditayangkan saat LCQ maupun GF pada playlist di atas. Kalian juga dapat mengecek kanal YouTube PKMN-id untuk menonton pertandingan-pertandingan PTC17 lainnya sejak awal musim!

Sirkuit ini telah menjadi perjalanan yang panjang, melelahkan, namun menyenangkan bagi kita semua. Kami berharap rangkaian turnamen yang berkelanjutan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi ranah kompetitif di negara lain, khususnya pada negara-negara yang tidak memiliki dukungan resmi Organized Play. Kami tak sabar menanti datangnya musim berikutnya, oleh karena itu dukung kami terus ya!

PTC17 LCQ & GF dapat terlaksana atas dukungan dari pihak sponsor: PS EnterpriseLogitech G, dan Unipin. Acara ini merupakan kolaborasi PKMN-id dan BIJAC dalam acara BIJAC no Tanjoiwai 10.

Terimakasih kepada M. Hafidz Syahril (@honeymoononice) yang telah menulis kerangka artikel ini bagi PKMN-id.

Get your game ON!

 

Comments

comments

Hashegi Hanjaya

PKMN-id Co-Founder. PKMN-id Administrator. PKMN-id VGC Head Judge.